Usai Putusan Muchdi Pr; Gelak Tawa di Ujung Dharmawangsa, Raut Sedih di Ampera Raya

Andi Saputra – detikNews http://www.detiknews.com/read/2008/12/31/135420/1061444/10/gelak-tawa-di-ujung-dharmawangsa-raut-sedih-di-ampera-raya Rabu, 31/12/2008 13:54 WIB muchdi5 Jakarta – Rumah di ujung Jalan Darmawangngsa X, Jakarta Selatan sangat berbeda. Bukan berubah warna catnya yang kuning gading atau bangunannya yang kokoh. Pun masih sama dengan bendera Partai Gerindra yang berkibar di tengah halaman. Entah demikian, rumah kediaman Muchdi Pr ini terasa berubah. Sebuah pagar besi selebar 3 meter dengan tinggi hampir dua meter kini terbuka lebar. Puluhan sepeda motor pengawal mantan Danjen Kopassus ini terparkir di trotoar jalan. Dua kendaraan roda dua nampak terparkir di seberang jalan. “Kalau Bapak ke Kelapa Dua, Depok (rutan Brimob-red) dulu, mungkin sore baru pulang,” kata salah seorang ajudan yang mengenakan safari biru kepada detikcom, Rabu (31/12/2008). Bandingkan suasana rumah mewah ini dengan suasana pada saat empunya rumah dijadikan tersangka kasus pembunuhan Munir beberapa bulan lalu. Kala itu, rumah tertutup rapat. Puluhan pengawal pribadi nampak tegang dengan terus berdiri di setiap ujung halaman. Jangankan membuka pintu garasi, menjawab pertanyaan pun mereka seakan riskan. “Bapak tidak ada di rumah,” ujar pengawal Muchdi kala itu dengan sinis. Suasana tersebut kini berubah total. Puluhan pengawal pun tersenyum lebar dengan tak henti-hentinya menghisap rokok atau menyeruput kopi di teras rumah. Para pengawal yang bertampang tegas, kini tak nampak. “Nanti saya kabari kalau ada konferensi pers, keluarga masih di Depok, ngurus adsministrasi,” ujar salah satu ajudan lagi. Pemandangan ini bertolak belakang dengan suasana di PN Jakarta Selatan, Jalan Ampera Raya. Muka istri mendiang Munir, Suciwati tak bisa membohongi kesedihannya. Didampingi Usman Hamid dan seluruh kawan perjuangan Munir, mata Suciwati terlihat nanar. “Ini memang menyakitkan,” ujarnya keras menahan getir di halaman PN Jaksel. Meski demikian, sebagai istri seorang pejuang, dia nampak tabah. Bersama ratusan kawan seperjuangan, tak henti-hentinya dia mengepalkan tangan kiri sebagai lambang perlawanan. “Kita harus tetap melawan,” ujarnya sambil lalu menuju mobilnya.(asp/gah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: