Kebangkitan Ekonomi, Visi 2030: Antara Mimpi dan Realitas

Jakarta, Kamis, 26 April 2007

jurnas2

http://www.jurnalnasional.com/new2/?KR=JURNAS&NID=27604

Mendekati satu abad ulang tahun kebangkitan Indonesia tahun 2008 yang akan datang, semakin banyak tanda bahwa masyarakat Indonesia mulai menyadari bahwa masih banyak ketertinggalan yang harus kita kejar. Sehingga berbagai pihak mulai merajut mimpi mengenai masa depan Indonesia lagi, kebangkitan Indonesia kedua. Jelas dapat dilihat adanya kegelisahan di masyarakat melihat perkembangan ekonomi yang cenderung berjalan di tempat. Tidak ada perkembangan ekonomi yang signifikan. Hanya sektor keuangan saja yang berkembang semakin pesat namun sektor riil tampaknya makin jauh di belakangnya, sehingga gap-nya semakin melebar. Padahal krisis ekonomi sudah lewat, sudah hampir 10 tahun krisis ekonomi berlalu, namun sampai sekarang belum kelihatan kemana arah ekonomi Indonesia ke depan.

Visi dan misi sekarang ini menjadi kunci penting. Bahkan juga pada tingkat internasional juga ada visi ASEAN 2020 yang ingin menjadikan kawasan ASEAN sebagai suatu kawasan yang stabil, makmur, mempunyai daya saing yang tinggi dan berfungsi sebagai pasar tunggal dan basis produksi yang didukung oleh pergerakan bebas dari barang, jasa, investasi, modal sehingga tercipta pembangunan ekonomi yang lebih adil, dapat mengurangi kemiskinan dan disparitas sosial ekonomi antarkawasan.

Mimpi dan Harapan
Ada berbagai versi dari visi dan misi yang sudah ada di “pasar”, baik versi jangka panjang, menengah ataupun pendek, pemerintah ataupun negara. Jelas dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 sudah tertulis bahwa visi Indonesia 2025 adalah mencapai Indonesia yang mandiri, maju, adil dan makmur. Dimana dalam salah satu sasaran yang ingin dicapai dalam bidang ekonomi adalah terwujudnya bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera. Tidak jelas arah yang ingin dicapai. Selain itu pemerintah juga punya Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2004-2009, dimana dalam satu satu visinya ingin mencapai terwujudnya perekonomian yang mampu menyediakan kesempatan kerja dan penghidupan yang layak serta memberikan pondasi yang kokoh bagi pembangunan berkelanjutan di tahun 2009.

Jelas bahwa kedua dokumen tersebut adalah dalam bentuk undang-undang dan Peraturan Presiden nomor 7 tahun 2005 yang mestinya secara hukum mengikat semua yang terlibat dalam pengurusan kenegaraan di Indonesia. Namun, sampai tahun 2007 ini jangankan visi yang ingin dicapai dalam jangka menengah dicapai, bahkan kehidupan semakin berat, yang dapat dilihat dari meningkatnya kemiskinan dan pengangguran dibandingkan dengan tahun 2005. Target pertumbuhan ekonomi 6,8 persen rata-rata per tahun dari tahun 2004-2009 nampaknya tidak akan dapat diraih.

Visi 2030
Pada saat yang hampir bersamaan pada bulan Maret yang lalu Yayasan Indonesia Forum dan Kadin meluncurkan visi 2030 yang cukup mengagetkan kita semua. Dimana oleh Indonesia Forum disampaikan bahwa Indonesia pada 2030 akan menjadi negara maju yang unggul dalan pengelolaan kekayaan alam, sehingga masuk dalam 5 besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan perkapita 18.000 dolar AS, pengelolaan kekayaan alam yang berkelanjutan, perwujudan kualitas hidup modern yang merata, dan 30 perusahaan Indonesia masuk dalam Fortune 500 Companies. Hebat sekali. Demikian juga Kadin akan menjadikan Indonesia menjadi negara industri maju dan bangsa niaga yang tangguh pada 2030, sehingga industri Indonesia akan mandiri dan mampu bersaing di era pasar bebas. Ada semacam kegerahan dari dunia usaha dan masyarakat yang tidak sabar melihat proses deindustrialisasi dan deinvestasi yang tidak segera dapat diatasi, demikian juga daya saing rendah yang cenderung menurun. Namun demikian visi dan misi tersebut adalah tidak mengikat pemerintah. Sehingga tidak ada keharusan untuk melaksanakannya.

Melihat semakin tingginya harapan masyarakat dan tuntutan pada perbaikan kehidupan yang nyata akhir-akhir ini tentunya sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah sebagai eksekutif bekerja keras untuk meraihnya. Mungkin tidak perlu meraih yang muluk-muluk dulu pada saat ini. Jika pemerintah tiap tahun dapat mencapai target-target ekonomi yang dicanangkan saja itu juga sudah kemajuan satu langgkah, karena sampai saat ini pemerintah belum pernah dapat mencapai target yang sudah dibuatnya tiap tahun.

Setelah itu tentu saja pencapaian target jangka menengah juga kita tunggu bersama realisasinya. Jika tiap langkah kita dapat mencapai target yang sudah ditetapkan tentu saja untuk menggapai mimpi-mimpi tersebut akan semakin mudah. Namun jika target tahunan saja tidak dapat diraih, lima tahun tidak dapat diraih, apalagi 25 tahun mendatang. Mimpi ni ye, kata Presiden pada waktu Indonesia Forum menyampaikan visinya.

Penulis adalah Pengamat Ekonomi UGM (Sri Adiningsih)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: