Visi Pembangunan Indonesia Menuju 2030

LUHUR FAJAR MARTHA
Senin, 16 Juli 2007

kompas-cetak9

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0707/16/pustaka/3683299.htm

Visi Indonesia 2030 telah diumumkan pada Maret 2007 lalu. Angan-angan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju ini membuat banyak akademisi ataupun ilmuwan, suka atau tidak suka, terbawa di dalamnya.

Meski perumusan finalnya baru dilakukan akhir 2007, visi yang digagas oleh Yayasan Indonesia Forum ini telah mengklaim ditopang empat pencapaian utama pada 2030, yaitu masuk dalam lima besar kekuatan ekonomi dunia, pengelolaan kekayaan alam yang berkelanjutan, perwujudan kualitas hidup modern yang merata dan mengantarkan sedikitnya 30 perusahaan Indonesia dalam daftar 500 perusahaan terbesar di dunia.

Entah sengaja atau tidak, Mudrajad Kuncoro, guru besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, juga berminat pada tahun “2030”. Melalui buku yang diberi judul Ekonomika Industri Indonesia: Menuju Negara Industri Baru 2030?, Mudrajad mencoba memberi sumbangan pemikiran tentang industrialisasi di Indonesia, yang oleh penggagas Visi Indonesia 2030 diyakini menjadi katalisator akumulasi modal menuju negara maju.

Industrialisasi dunia
Mesin uap yang dikembangkan sejak abad 18 telah membawa perubahan besar dalam proses produksi. Tenaga manusia digantikan oleh mesin sehingga kapasitas produksi meningkat pesat. Pada saat itulah industrialisasi, yang menjadi pemicu revolusi industri, dimulai.

Industrialisasi yang bermula di Eropa ini mendesak dominasi sektor pertanian dalam perekonomian. Para petani meninggalkan sawahnya untuk bekerja di pabrik. Ditambah lagi dengan banyaknya lahan pertanian yang dialihkan menjadi pusat industri baru, yang dengan segera menjadi anak emas perekonomian. Kondisi ini akhirnya menyebar, meski tidak secara merata, ke hampir seluruh dunia.

Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa Barat, mendominasi industrialisasi sehingga disebut sebagai negara maju. Sedangkan negara-negara lain yang relatif tertinggal dalam industrialisasi disebut sebagai negara berkembang atau negara tertinggal.

Mudrajad memotret persoalan dan dinamika industrialisasi di Indonesia, yang masih termasuk ke dalam kelompok negara-negara berkembang, dalam lingkup ilmu ekonomi. Ia menggunakan kerangka Industrial Organization yang sering digunakan untuk menjelaskan bagaimana industri bekerja. Di sinilah, Mudrajad menyampaikan perspektif yang berbeda dari pendekatan konvensional.

Pendekatan spasial
Kerangka Industrial Organization yang konvensional diberlakukan pada tingkat perusahaan dengan kondisi persaingan tidak sempurna, yang terletak di antara persaingan sempurna dan monopoli murni. Ini membuat kajian teoretis dalam ekonomi industri lebih realistis.

Persaingan sempurna terjadi saat pasar diisi oleh cukup banyak produsen dan konsumen sehingga mereka hanya dapat menerima harga yang berlaku. Saat hanya satu produsen menguasai pasar, terjadi kondisi yang disebut monopoli murni.

Persaingan sempurna dihindari produsen karena keuntungan ekonomi yang mereka peroleh nol. Sementara, monopoli murni direstriksi dengan undang-undang karena menghasilkan rente ekonomi yang terlalu besar bagi produsen. Meski kita masih menemukan kedua kondisi itu, yang sering terjadi adalah persaingan tidak sempurna.

Dalam persaingan tidak sempurna, kita dihadapkan pada kemungkinan munculnya kolusi atau justru persaingan antarprodusen. Kolusi sistematis dapat sangat merugikan konsumen, namun persaingan yang tidak terkendali dapat menyebabkan produsen bangkrut. Interaksi, baik kolusi maupun persaingan antarprodusen menjadi persoalan dilematis.

Pendekatan awal yang digunakan untuk membahas Industrial Organization adalah structure-conduct-performance yang digagas oleh Mason, ekonom dari Harvard University, akhir 1930-an. Ia mengembangkan pembahasan Chamberlin tentang kekuatan monopoli.

Pendekatan Mason menempatkan struktur pasar di satu sisi dan perilaku produsen yang berpengaruh pada keberhasilan pasar mencapai kesejahteraan umum di sisi lainya. Setelah empat dekade menjadi arus utama, pendekatan ini mulai menghadapi kegagalan karena tidak mampu mengakomodasi interaksi antarprodusen.
Beberapa ekonom dari University of Chicago, seperti Posner, Bork, dan Peltzman berusaha memperbaiki kelemahan itu. Namun, mereka juga belum mampu merumuskan interaksi antarprodusen dalam “bahasa” yang tepat. Hingga akhirnya Schelling, Selten, dan Harsanyi memberi kontribusi penting yang memungkinkan teori permainan menjadi sebuah “bahasa” dalam memodelkan interaksi tersebut.

Mereka mengembangkan pemikiran yang digagas oleh Von Neumann, Morgenstern, dan Nash. Kini, interaksi antarprodusen yang diterjemahkan ke dalam teori permainan menjadi pendekatan yang biasa digunakan dalam pembahasan Industrial Organization.

Awalnya, Mudrajad masih menggunakan pendekatan structure-conduct-performance. Namun, ia kemudian mengesampingkan interaksi antarprodusen dan menawarkan pendekatan spasial. Di sini, spasial diartikan sebagai ruang yang mengacu pada aspek geografis atau daerah di mana industri kemudian dibangun.
Mudrajad berargumen bahwa ilmu ekonomi arus utama cenderung mengabaikan dimensi spasial. Padahal, pengelompokan industri secara geografis berperan penting untuk menstimulasi sektor yang memiliki keunggulan kompetitif. Kondisi ini mendorong terbentuknya konsentrasi spasial dalam industri.

Untuk mendukung gagasannya, Mudrajad mengemukakan tiga teori: neoklasik, keperilakuan, dan radikal. Teori neoklasik mengasumsikan adanya persaingan sempurna dan fair sehingga terjadi efisiensi, yang didukung oleh informasi dan rasionalitas sempurna untuk menetapkan lokasi optimal yang memaksimalkan keuntungan.
Teori keperilakuan menekankan adanya perbedaan dalam tujuan, preferensi, pengetahuan, kemampuan, dan rasionalitas dari pengambil keputusan terkait dengan penetapan lokasi industri. Teori ini mencoba membuat teori neoklasik lebih realistis dengan mengakomodasi isu preferensi lokal dan struktur industri.
Yang terakhir, teori radikal, menyatakan bahwa persaingan tidak secara otomatis menjamin hasil yang secara sosial diinginkan, bahkan menciptakan ketidakstabilan dan persaingan tidak sehat. Kondisi ekonomi politik sangat berpengaruh terhadap penetapan lokasi industri.

Teoretis dan pragmatis
Pada bagian akhir bukunya, Mudrajad menyatakan, pemerintah saat ini mempunyai peluang emas untuk membuat beberapa perubahan mendasar. Pertama, menjadikan investasi dan ekspor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, bukan lagi konsumsi.

Kedua, menjadikan birokrat di pusat dan daerah sebagai fasilitator bagi dunia bisnis. Kemudian, yang ketiga adalah membuat rencana reformasi yang komprehensif dan berjangka menengah, setidaknya lima tahun mendatang.

Guru besar yang juga terlibat dalam perancangan pembangunan kompetensi inti daerah ini menyimpulkan pentingnya kebijakan yang lebih mendukung industrialisasi berperspektif spasial. Artinya, pemerintah seharusnya mulai mengatur penempatan industri sehingga bisa dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya produktif di daerah.

Ada yang kurang lengkap jika membicarakan pembangunan industri berperspektif spasial tanpa memberi perhatian pada interaksi antardaerah. Interaksi yang bisa menjadi kekuatan pembangunan nasional belum ditempatkan sebagai strategi.

Sebagaimana dinyatakan dalam hukum pertama geografi Tobler: segala sesuatu terkait dengan sesuatu lainnya, tapi keterkaitannya semakin tinggi jika jaraknya semakin dekat. Selain secara fisik, jarak juga bisa didefinisikan sebagai transaksi atau hubungan ekonomi antardaerah. Tanpa dipayungi dengan pembangunan nasional, industri-industri daerah yang kuat belum tentu membawa kesejahteraan bersama. Kondisi ini berpotensi memicu penguatan sentimen kedaerahan jika tidak ditangani secara baik.

Pemaparan yang kurang tuntas, baik dari sisi teori maupun terapan, memunculkan keambiguan apakah buku Ekonomika Industri Indonesia ditujukan untuk menjabarkan ilmu ekonomi industri atau menawarkan perspektif baru bagi pembangunan industri nasional.

Di satu sisi, paparan teoretis yang dimunculkan masih terkesan sekadar menjadi pelengkap agar karakter ilmiah buku ini tidak hilang. Di sisi lain, penjelasan pragmatis yang didukung dengan penelitian empiris belum dirangkai menjadi kesatuan kesimpulan yang saling menguatkan.

Menuju 2030
Mudrajad, yang meraih gelar doktor di bidang manajemen, telah menawarkan jalan alternatif untuk membangun industri nasional. Meski demikian, ia tidak secara tegas menyatakan bahwa Indonesia bisa menjadi negara industri pada 2030 mendatang.

Keinginan menjadikan Indonesia sebagai negara industri mungkin baik. Tetapi, rasanya kita perlu merenungkan kisah yang ditulis Frederic Bastiat, The Broken Window, pada tahun 1850.

Kira-kira demikian kisahnya. Seorang Ayah mendapati putranya memecahkan sebuah kaca jendela. Awalnya, orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu bersimpati kepada sang Ayah, yang harus membayar enam franc untuk mengganti kaca yang pecah. Namun, kemudian mereka berpikir bahwa mungkin kaca jendela yang pecah baik untuk bisnis kaca.

Bastiat menulis, “Itulah yang terlihat”. Perusakan mendorong peningkatan bisnis kaca jendela. Kemudian Bastiat bertanya, “Apa yang tidak terlihat?” Bastiat menunjukkan bahwa sang Ayah tidak lagi memiliki enam franc untuk membeli sepatu atau buku untuk perpustakaannya.

Visi Indonesia 2030 dinyatakan oleh penggagasnya dibangun dengan rasa optimisme yang rasional dalam memandang masa depan yang lebih baik. Di dalamnya, terdapat sinergi tiga komponen, yaitu pengusaha, birokrat dan akademisi. Kita sudah melihat pengusaha yang menjadi birokrat, atau sebaliknya. Juga akademisi yang menjadi birokrat, atau sebaliknya. Semoga para akademisi tidak berniat menjadi pengusaha… (Luhur Fajar Martha Litbang Kompas)

Comments
One Response to “Visi Pembangunan Indonesia Menuju 2030”
  1. alinda mengatakan:

    Alaah!!
    Ngapain mikirin sesuatu yang mSh jauH?!?Blon tentu Indonesia msih ada ampe 2030.Pikirin dulu yg skRg!!Gmna klanjutan idupnya,,Jgn smpe qta idup enggak, matipun kgak!!…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: